Kartini Dulu dan Kini

Masih dalam suasana hari Kartini, saya ingin mengucapkan selamat hari Kartini. Sebenarnya saya agak sungkan memberi ucapan karena saya belum terlalu paham sejarah si “ibu kita” ini, tapi orang-orang di sekitar saya selalu ada yang membahas tentang beliau disetiap tanggal 21 April, jadi wawasan saya tentang ibu Kartini bertambah sedikit tiap tahun.

Kira-kira beginilah rangkuman yang saya buat setelah membaca sejarah dari berbagai sumber dan mendengar ceritanya dari berbagai pihak. Kartini lahir di Jepara dan berstatus sebagai puteri bupati Jepara saat itu. Beliau sempat merasakan pendidikan formal (sekolah) namun karena tradisi setempat, beliau kemudian dipingit. Dalam masa pingitan inilah beliau sering membaca buku-buku maupun surat kabar dari Eropa, sehingga wawasan beliau mengenai dunia luar bisa dibilang sangat luas. Dari bacaan-bacaan itulah timbul keinginan beliau untuk melakukan perjuangan atas hak-hak perempuan. Selain itu, dalam masa pingitan juga beliau sering menulis surat kepada kawannya di Belanda.
Nah, sampai disini, saya juga belum paham hak macam apa yang sebenarnya diperjuangkan.
Setelah menikah, beliau mengajar di sekolah khusus perempuan yang berlokasi di rumahnya. Kumpulan surat-suratnya yang ditulis kepada kawannya di Belanda itu kemudian disusun menjadi sebuah buku yang “katanya” kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi…. ya itulah, saya rasa semua juga tahu.

Itu versi yang saya ketahui. Kalau versi saya beda lagi. Pertama kali saya mendengar nama Kartini dari lagu yang dinyanyikan guru TK saya. Karena saya kesulitan menghafal lagunya, nenek saya menjadi orang berikutnya yang mengajari saya lagu itu. Waktu itu saya masih menganggap Kartini hanya sebuah lagu. Kemudian dalam kurun waktu TK-SD, setiap tanggal 21 April para murid disuruh memakai baju adat dari berbagai daerah di Indonesia. Pada tanggal 21 April setiap tahunnya juga ada tulisan-tulisan di berbagai media massa tentang perjuangan perempuan.
Singkatnya, yang saya ketahui tentang Kartini :
-Beliau orang yang cerdas, menguasai bahasa Belanda sejak usia muda
-Beliau memiliki pandangan tentang definisi wanita modern dari bacaan-bacaannya selama masa pingitan
-Beliau mengusahakan agar perempuan mendapatkan pendidikan
Jadi, beliau ingin agar para perempuan yang nasibnya tidak seberuntung dirinya dapat merasakan sekolah. Beliau juga merupakan sosok yang mau berbagi ilmunya.

Atas jasanya tersebut, hari lahir beliau diperingati dengan festival pakaian tradisional alih-alih dengan lomba membaca atau menulis. Menurut saya, beliau adalah pahlawan ilmu pengetahuan, bukan pejuang pakaian tradisional ataupun aktivis persamaan hak. Semestinya hari lahirnya diperingati dengan hal-hal yang berhubungan dengan pengembangan pendidikan. Hal yang membuat ibu Kartini lebih hebat dari pahlawan perempuan lainnya adalah: hari lahirnya selalu diperingati meskipun tidak menjadi hari libur nasional. Padahal beliau bukan istri presiden dan beliau juga tidak ikut turun berperang angkat senjata melawan penjajah. Selain itu juga namanya diabadikan dalam sebuah lagu. Wajahnya juga pernah menjadi ilustrasi uang Rp 10,000 sampai akhirnya digantikan oleh Tjut Njak Dien.

Semoga kisah hidup ibu Kartini versi saya yang tidak jelas asal-usulnya dapat menjadi pelajaran untuk semuanya.
* Keinginan beliau yang kuat untuk memperjuangkan agar perempuan dapat setara sudah terwujud dengan menjadi perempuan satu-satunya yang hari lahirnya diperingati diantara para pahlawan-pahlawan laki-laki yang lain. Agar perempuan lainnya tidak iri, dibuatlah hari ibu pada tanggal 22 Desember.
* Bagi yang sedang dalam perjalanan menimba ilmu, MENULISLAH ! Karena bisa jadi tulisan itu nantinya mengantarkan orang lain mendapatkan pencerahan dari keadaan awalnya yang serba kekurangan. Bukan malah pergi malam-malam lalu baru pulang saat hari sudah terang.

 

 

Waaw… Keren sekali !

Komentarin dooong...

Your email address will not be published. Required fields are marked *